Tak ada jarak yang jauh antara sahabat, meski bertabir luas benua dan berhalang samudera raya, karena persahabatan ciptakan sayap bagi hati

Friday, November 24, 2006

Hasrat Memimpin

“Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta untuk menjadi pemimpin, sebab jika engkau dijadikan pemimpin karena permintaanmu, maka engkau akan terbeban. Tapi jika engkau menjadi pemimpin bukan karena permintaanmu, maka engkau akan dibantu untuk mengatasinya.” (HR. Bukhari Muslim)

demikian suatu kali Rasulullah menasihati seorang sahabat bernama Abdurrahman bin Samurah, ketika ia meminta untuk diangkat menjadi seorang pemimpin. Dengan hadits tersebut tentu Rasulullah sama sekali tak bermaksud melarang orang – orang mukmin untuk terjun ke kancah politik, terutama bila niat tersebut didasari oleh tujuan dakwah dan niat amar makruf nahi munkar. Namun niat yang baik saja tentu tak cukup, karena seorang pemimpin hendaknya memiliki kompetensi mumpuni yang terkait dengan amanah yang diembannya.

Untuk menjadi pemimpin yang baik, idealnya seseorang tak mengandalkan kharisma, popularitas atau bahkan faktor kedekatan dengan penguasa (nepotisme), tapi yang lebih penting adalah kemampuan dan integritas moral. Sebagaimana sabda Rasulullah ketika sahabat Abu Dzar meminta sebuah jabatan kepemmpinan,”Wahai Abu Dzar, engkau adalah seorang yang lemah, dan jabatan itu adalah amanah yang pada hari akhir hanya akan menjadi penyesalan dan kehinaan. Kecuali orang yang mampu menunaikan hak kewajibannya dan memenuhi tanggung jawabnya." (HR. Muslim). Hadits tersebut menyiratkan implikasi bahwa kepemimpinan tanpa kemampuan yang memadai akan berbuah ketidakamanahan, yang ujung akhirnya adalah kehinaan yang kekal.

Rasulullah mengajarkan kepada para sahabatnya untuk tidak menonjolkan diri agar seseorang terpilih menjadi pemimpin. Terlebih pada zaman itu begitu banyak pribadi – pribadi pilihan dengan jiwa kepemimpinan yang kuat dengan karakternya masing – masing. Dan karena para sahabat itu adalah rijaludda’wah yang dikader langsung oleh Rasulullah, maka beliaulah yang paling memahami benar potensi dari setiap sahabatnya. Sebagai utusan Allah SWT, Rasulullah tak pernah lepas dari arahan wahyuNya dalam setiap pengambilan keputusan penting termasuk dalam hal yang terkait dengan pergantian kepemimpinan. Selain tentu juga bermusyawarah dengan para sahabat.

Namun sekali lagi, bukan berarti Islam mengharamkan seorang mukmin mengajukan diri menjadi pemimpin. Sebagaimana digambarkan dalam Al Qur’an mengenai kondisi krisis ekonomi yang melanda bangsa Mesir, saat itu Nabi Yusuf AS mengajukan diri untuk menerima amanah kepemimpinan : “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (integritas), lagi berpengetahuan (kompetensi).” (QS. Yusuf : 55). Tampak jelas bahwa bolehnya seseorang mengajukan diri menjadi pemimpin setidaknya harus memenuhi kriteria integritas moral yang tinggi, kompetensi dan kapabilitas yang mumpuni serta track record yang bersih dan telah teruji. Sebagaimana dikisahkan dalam Al Quran, Nabi Yusuf mengajukan diri menjadi pemimpin setelah terbukti tidak bersalah dan dibebaskan dari penjara negara. Permasalahan krisis ekonomi yang menimpa bangsa Mesir membutuhkan pemimpin baru yang solutif dan mereka menemukan jawabnya pada sosok pribadi menawan dan potensi kepemimpinan seorang Yusuf.

Memegang tampuk kepemimpinan menjadi amal yang sangat terpuji manakala dilaksanakan dalam koridor ketaatan pada Allah dan RasulNya. Buah dari sistem kaderisasi Islami yang telah Rasulullah rintis adalah pemimpin – pemimpin dengan tipikal Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin thalib, Umar bin Abdul Aziz. Sebagai pemimpin mereka telah membuktikan bahwa kepemimpinan yang tidak didasarkan syahwat berkuasa berlebihan, tetapi kompetensi dan integritas akan menghasilkan kehidupan rakyat yang makmur sejahtera berdasarkan ridho Allah.

Dan sejarah juga membuktikan banyak pemimpin bangsa di dunia yang menjadi pemimpin hanya bermodalkan ambisi dan dorongan syahwat berkuasa semata tanpa menaati rambu-rambu Allah dan RasulNya, ternyata membawa rakyatnya kepada kehancuran. Dan kekuasaan mereka berakhir dengan cara yang paling nista dan tentu juga kehinaan dan penyesalan yang sangat di hari kiamat.
“Sesungguhnya kalian meminta menjadi pemimpin. Nanti kalian akan mendapatkan penyesalan pada hari Kiamat…” (HR. Bukhari)

imamakbari@gintung

No comments: