26 Desember 2 tahun lalu dan 26 Desember hari ini…
Aceh masih dalam dekap nestapa…
AKU MALU MENGATAKAN
Aku malu mengatakan
Bahwa kau Acehku
Karena aku menginjakkan kaki di tanahmu
Hanya tuk mendapatkan pengakuan “Akulah Relawan”
Aku malu mengatakan
Bahwa kau Acehku
Karena aku hanya mangabadikan kehancuranmu
lalu menjualnya ke media
Aku malu mengatakan
Bahwa kau Acehku
Karena aku tak kuasa membendung anak – anakmu
Diambil untuk diperdagangkan dan disesatkan
Aku malu mengatakan
Bahwa kau Acehku
Karena aku datang terlambat
Sehingga ribuan jiwa gagal selamat
Aku malu mengatakan
Bahwa kau Acehku
Karena alasan banyak kebutuhan
Tak sepeserpun uangku mengalir untukmu
Aku malu mengatakan
Bahwa kau Acehku
Karena aku hanya mengucap iba dan belasungkawa
Tanpa ada perbuatan nyata
Aku malu mengatakan
Bahwa kau Acehku
Karena begitu banyak pintaku padaNYA
Kutak pernah menyebutmu dalam doaku
Aku malu mengatakan
Bahwa kau Acehku
Karena tiada tangis tersisa untukmu
Airmataku telah kering
Untuk meratapi ketidakberdayaanku…
(imam akbari, dalam perangkap duka Aceh jilid 2)
Tak ada jarak yang jauh antara sahabat, meski bertabir luas benua dan berhalang samudera raya, karena persahabatan ciptakan sayap bagi hati
Tuesday, December 26, 2006
Siaga Bencana, Disaster Management Training diselengarakan di Pekanbaru

Sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di Negeri rawan bencana, maka akhir pekan lalu tepatnya tanggal 16 – 17 Desember 2006 diselenggarakan Pelatihan Manajemen Bencana di Kota Pekanbaru. Tim ACT kembali diundang untuk menjadi pembicara pada kegiatan yang kali ini dilaksanakan oleh Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Cabang Pekanbaru, Kegiatan Pelatihan ini selain didukung oleh Pemerintah Provinsi Riau dan Dinas Kesehatan Provinsi Riau juga disponsori oleh Bank Syariah Mandiri dan Harian Riau Pos.
Peserta pada Pelatihan yang berlangsung di Hotel Mona Plaza ini adalah para relawan kemanusiaan yang merupakan perwakilan dari berbagai LSM di Provinsi Riau. Mereka berasal dari beberapa Kota / Kabupaten di Provinsi Riau seperti Kota Pekanbaru, Indragiri Hilir, Bengkalis dan sebagainya. Diharapkan materi yang diperoleh pada Pelatihan ini dapat mereka kembangkan di daerah masing – masing.
Pada Pelatihan ini Ahyudin selaku Direktur Eksekutif ACT menyampaikan materi Konsep Penanggulangan Bencana Terpadu dan Strategi Emergency Bencana Sementara Kepala Divisi ACT for Comdev, Efri S. Bahri mengajak peserta untuk sharing tentang Konsep Program Recovery yang sesuai kebutuhan masyarakat Riau. Terakhir pada sesi Fundraising for Humanity, Imam Akbari (GM Marketing ACT) mengajak peserta untuk membuka cakrawala seluasnya tentang peluang – peluang pendanaan Program Kemanusiaan di Riau. Materi lain yang disampaikan pada kesempatan tersebut adalah Jurnalistik Kemanusiaan dan Basic Life Support. Dari Pelatihan ini diharapkan para peserta dapat memahami Konsep Manajemen Penanggulangan Bencana Terpadu secara holistik.
Sesuai Visi dan Misinya, ACT berkeinginan menjadi garda terdepan yang peduli terhadap kesiapsiagaan bangsa ini menghadapi bencana yang dapat terjadi kapan saja. Salah satunya dengan metode Pelatihan Manajemen Penanggulangan Bencana Terpadu seperti ini. Dan seperti yang telah ACT lakukan di Banjarmasin, Balikpapan dan Pekanbaru ini, Tim ACT siap untuk bersilaturahim dan bertukar pengalaman dengan teman – teman di seluruh tanah air. Bagaimana dengan daerah Anda ? (Imam Akbari)
Tuesday, December 5, 2006
ACT Sharing Pengalaman di Forum Perumahan untuk Rakyat
ACT, Jakarta - Kamis, 30 November 2006 bertempat di Goldmine Room Hotel Golden Jl. Melawai Jakarta Selatan, Kementerian Negara Perumahan Rakyat memfasilitasi forum pertemuan yang membahas permasalahan perumahan terutama untuk rakyat miskin dan korban bencana. Pertemuan yang dihadiri sekitar 20 orang itu membahas permasalahan dan alternatif solusi di seputar perumahan untuk rakyat di Indonesia.
Selain dari Kementerian Negara, pihak yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah LSM-LSM yang memiliki konsen program yang terkait dengan bidang perumahan untuk rakyat miskin dan korban bencana. Diantara lembaga tersebut adalah ACT yang diwakili Imam Akbari selalu Manager Pos Kemandirian Masyarakat (PKM) ACT dan Disaster Recovery Program Manager ACT, Didik R. Sumekto.
Selain ACT, hadir pula para Direktur Eksekutif YIPD-Yayasan Innovasi Pembangunan Daerah, dan FAKTA-Forum Warga Kota Jakarta. Sementara dari pihak lembaga donor yaitu : UN Habitat, Habitat for Humanity, ADB – Asian Development Bank, World Bank, USAID, AUS AID, CITIBANK PEKA, City Z. Sedangkan Holcim mewakili pihak Corporate.
ACT pun berkesempatan untuk sharing pengalamannya dalam hal membangun komunitas Perumahan Tahan Gempa bagi korban gempa di Dusun Kedaton Kidul, Pleret, Kabupaten Bantul Jogja yang memiliki konsep kawasan terpadu.
Forum yang merupakan wahana curah gagasan bagi segenap stakeholder yang konsen terhadap permasalahan perumahan rakyat ini diharapkan dapat menghasilkan sejumlah solusi bagi sejumlah permasalahan klasik perumahan di negri ini dan dapat menjadi rekomendasi bagi pihak Kementerian Negara. Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut akan dibuat pertemuan berkala, tematik pertemuan, mailing list, kelompok kerja dan perluasan unsur peserta seperti dari pihak media. (Imam Akbari)
Selain dari Kementerian Negara, pihak yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah LSM-LSM yang memiliki konsen program yang terkait dengan bidang perumahan untuk rakyat miskin dan korban bencana. Diantara lembaga tersebut adalah ACT yang diwakili Imam Akbari selalu Manager Pos Kemandirian Masyarakat (PKM) ACT dan Disaster Recovery Program Manager ACT, Didik R. Sumekto.
Selain ACT, hadir pula para Direktur Eksekutif YIPD-Yayasan Innovasi Pembangunan Daerah, dan FAKTA-Forum Warga Kota Jakarta. Sementara dari pihak lembaga donor yaitu : UN Habitat, Habitat for Humanity, ADB – Asian Development Bank, World Bank, USAID, AUS AID, CITIBANK PEKA, City Z. Sedangkan Holcim mewakili pihak Corporate.
ACT pun berkesempatan untuk sharing pengalamannya dalam hal membangun komunitas Perumahan Tahan Gempa bagi korban gempa di Dusun Kedaton Kidul, Pleret, Kabupaten Bantul Jogja yang memiliki konsep kawasan terpadu.
Forum yang merupakan wahana curah gagasan bagi segenap stakeholder yang konsen terhadap permasalahan perumahan rakyat ini diharapkan dapat menghasilkan sejumlah solusi bagi sejumlah permasalahan klasik perumahan di negri ini dan dapat menjadi rekomendasi bagi pihak Kementerian Negara. Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut akan dibuat pertemuan berkala, tematik pertemuan, mailing list, kelompok kerja dan perluasan unsur peserta seperti dari pihak media. (Imam Akbari)
Friday, December 1, 2006
NSP oh NSP...
Siang itu seorang bos sebuah perusahaan marah – marah sehabis menelepon dengan HPnya. Marah besarnya didengar oleh beberapa karyawan di kantor itu. Ada apa rupanya dengan si Bos? Setelah ditelusuri baru diketahui penyebabnya. Ternyata musabab si Bos kesal bukan kepalang adalah karena ketika ia coba menghubungi HP salah seorang stafnya tak juga diangkat meski sudah dicall berkali – kali. Namun rupanya bukan sekadar karena telepon yang tak segera dijawab sang staf, yang menjadi sebab tunggal kemarahannya. Apa pasal ? Ternyata Nada Sambung Pribadi (NSP) sang staf yang menjadi pangkal kian berlipatnya kemarahan si Bos. Ya NSP yang digunakan sang staf berupa suara seorang wanita yang dengan suara manja dan cueknya mengatakan bahwa sang pemilik telepon sedang sibuk dan meminta kesabaran si penelpon untuk menunggu dan bersabar. Jadi, alih – alih segera diangkat agar si Bos bisa segera menyampaikan hal penting dan mendesak, malah disambut oleh NSP yang bagi si Bos sangat menyebalkan. Jadilah kemarahan si Bos yang memang sedang stress itu mencapai puncaknya.
Nada Sambung Pribadi (NSP) sebenarnya merupakan brand name dari salah satu operator selular terkemuka di Indonesia. Nama asli NSP sebenarnya adalah Ring Back Tone (Nada Tunggu / Nada Panggil Kembali), namun nama NSP seolah menjadi nama generic produk ini karena lebih popular dan mudah disebut. NSP setidaknya memiliki beberapa fungsi yakni selain sebagai identitas pemilik nomor juga memberi kenyamanan bagi si penelpon sambil menunggu sang pemilik nomor menjawab panggilan atau mengangkat telepon. Bagi operator selular, NSP merupakan salah satu tambang emas terbesar selain SMS. Belakangan pihak media seperti Stasiun TV pun digandeng oleh para operator untuk memperluas pasar NSP.
NSP sangat beragam, dari lagu pop yang manis dan romantis hingga lagu relijius yang menyejukkan. Selain itu masih banyak lagi variannya seperti suara – suara khusus yang menimbulkan efek kelucuan / humor atau bentuk kehebohan lainnya. Pilihan NSP seolah menggambarkan kepribadian sang pemilik nomor, NSP yang bersifat limited edition atau pesanan khusus juga diburu oleh para pemilik nomor yang ingin menjaga kesan ekslusif pada dirinya.
Permasalahan yang sering muncul seputar NSP sebagaimana kisah si Bos dengan stafnya adalah karena pada dasarnya setiap orang dapat memiliki perbedaan persepsi dan selera terhadap sebuah NSP. Ada banyak kisah lain yang mencerminkan hal tersebut. Di antaranya apa yang dialami oleh Rino dengan NSPnya yang berupa sebuah lagu dari Kahitna berjudul 'Tak Bisa Mendua'. Suatu hari tak lama setelah memesan lagu tersebut sebagai NSP HPnya, ia ditelepon seorang rekan wanitanya. Saat itu kebetulan Rino tak sempat langsung menjawab panggilan itu. Baru pada kesempatan kedua, Rino mengangkat HPnya. Dan di seberang sana dia tak mendengar sapaan sebagaimana lazimnya orang berkomunikasi, melainkan sebuah isak tangis. Ada apa rupanya ? Ternyata si wanita merasa ‘tersindir’ mentah – mentah dengan lagu NSP pilihan Rino. Si wanita bercerita bahwa selama ini ia menyimpan hasrat pada seorang pria yang sudah beristri. Padahal Rino memasang NSP tersebut tentu tidak untuk menyindir siapapun, melainkan hanya karena menyukai lagu tersebut. Lebih tidak. Alamak…
Lain lagi pengalaman Andi, ia sering mendapat panggilan telepon dari nomor tak dikenal setiap kali coba diangkat selalu ditutup langsung oleh si penelepon. Belakangan Andi paham duduk perkaranya setelah si penelepon tak dikenal itu mengirimkan SMS : “mohon tak diangkat, saya cuma ingin mendengarkan NSP anda.”
Tak hanya soal remeh temeh belaka, NSP pun ternyata bisa menjadi energi luarbiasa yang mampu menggerakkan seseorang untuk melakukan revolusi diri. Ini dialami oleh seorang pemuda sebut saja Agil namanya. Agil melakukan kontemplasi mendalam perjalanan kehidupannya, setelah mendengarkan NSP seorang kawan lamanya. NSP berjudul Ketika Kaki dan Tangan Bicara yang dinyanyikan Chrisye dan syairnya ditulis oleh Taufiq Ismail itu telah mencerahkan dirinya. Dan sejak itu pintu hidayah seolah kian terbuka lebar untuknya.
Begitulah NSP, suka atau tidak ia telah menjadi ikon budaya pop baru yang berkembang sangat pesat di masyarakat. Last but not least tentu saja NSP merupakan lahan bisnis yang sangat menggiurkan dan akan menggelembungkan pundi - pundi para operator selular. NSP oh NSP..(imamakbari@bordertown)
Nada Sambung Pribadi (NSP) sebenarnya merupakan brand name dari salah satu operator selular terkemuka di Indonesia. Nama asli NSP sebenarnya adalah Ring Back Tone (Nada Tunggu / Nada Panggil Kembali), namun nama NSP seolah menjadi nama generic produk ini karena lebih popular dan mudah disebut. NSP setidaknya memiliki beberapa fungsi yakni selain sebagai identitas pemilik nomor juga memberi kenyamanan bagi si penelpon sambil menunggu sang pemilik nomor menjawab panggilan atau mengangkat telepon. Bagi operator selular, NSP merupakan salah satu tambang emas terbesar selain SMS. Belakangan pihak media seperti Stasiun TV pun digandeng oleh para operator untuk memperluas pasar NSP.
NSP sangat beragam, dari lagu pop yang manis dan romantis hingga lagu relijius yang menyejukkan. Selain itu masih banyak lagi variannya seperti suara – suara khusus yang menimbulkan efek kelucuan / humor atau bentuk kehebohan lainnya. Pilihan NSP seolah menggambarkan kepribadian sang pemilik nomor, NSP yang bersifat limited edition atau pesanan khusus juga diburu oleh para pemilik nomor yang ingin menjaga kesan ekslusif pada dirinya.
Permasalahan yang sering muncul seputar NSP sebagaimana kisah si Bos dengan stafnya adalah karena pada dasarnya setiap orang dapat memiliki perbedaan persepsi dan selera terhadap sebuah NSP. Ada banyak kisah lain yang mencerminkan hal tersebut. Di antaranya apa yang dialami oleh Rino dengan NSPnya yang berupa sebuah lagu dari Kahitna berjudul 'Tak Bisa Mendua'. Suatu hari tak lama setelah memesan lagu tersebut sebagai NSP HPnya, ia ditelepon seorang rekan wanitanya. Saat itu kebetulan Rino tak sempat langsung menjawab panggilan itu. Baru pada kesempatan kedua, Rino mengangkat HPnya. Dan di seberang sana dia tak mendengar sapaan sebagaimana lazimnya orang berkomunikasi, melainkan sebuah isak tangis. Ada apa rupanya ? Ternyata si wanita merasa ‘tersindir’ mentah – mentah dengan lagu NSP pilihan Rino. Si wanita bercerita bahwa selama ini ia menyimpan hasrat pada seorang pria yang sudah beristri. Padahal Rino memasang NSP tersebut tentu tidak untuk menyindir siapapun, melainkan hanya karena menyukai lagu tersebut. Lebih tidak. Alamak…
Lain lagi pengalaman Andi, ia sering mendapat panggilan telepon dari nomor tak dikenal setiap kali coba diangkat selalu ditutup langsung oleh si penelepon. Belakangan Andi paham duduk perkaranya setelah si penelepon tak dikenal itu mengirimkan SMS : “mohon tak diangkat, saya cuma ingin mendengarkan NSP anda.”
Tak hanya soal remeh temeh belaka, NSP pun ternyata bisa menjadi energi luarbiasa yang mampu menggerakkan seseorang untuk melakukan revolusi diri. Ini dialami oleh seorang pemuda sebut saja Agil namanya. Agil melakukan kontemplasi mendalam perjalanan kehidupannya, setelah mendengarkan NSP seorang kawan lamanya. NSP berjudul Ketika Kaki dan Tangan Bicara yang dinyanyikan Chrisye dan syairnya ditulis oleh Taufiq Ismail itu telah mencerahkan dirinya. Dan sejak itu pintu hidayah seolah kian terbuka lebar untuknya.
Begitulah NSP, suka atau tidak ia telah menjadi ikon budaya pop baru yang berkembang sangat pesat di masyarakat. Last but not least tentu saja NSP merupakan lahan bisnis yang sangat menggiurkan dan akan menggelembungkan pundi - pundi para operator selular. NSP oh NSP..(imamakbari@bordertown)
Mosaik Bernama Sahabat
Sehelai kata penghalang riuh terpecah
Serpihan-serpihannya hadirkan pucuk-pucuk kebersamaan
Sekerat hati yang saling berdampingan
Menyusun helaian kaca baru
Yang kering akan retorika
Yang ada hanya sematan kemuliaan untuk saling mengasihi
Semburat bayang-bayang insani
Mulai memebuhi kaca
Kelopak jiwa perlahan merekah
Genangan pikiran pun terefleksi pada diri
Menjaga kaca agar tak terpecah
Menjaga masing-masing diri
Menjadi mahkota jiwa satu sama lain
Agar kaca tak lekang oleh waktu
Agar pancaran kasih tetap berpendar
Agar rasa ini tetap ada
Jelajahi waktu sinari diri
Seperti adanya dirimu didiriku
Berarti dan tiada terganti
Ciputat 2004
Serpihan-serpihannya hadirkan pucuk-pucuk kebersamaan
Sekerat hati yang saling berdampingan
Menyusun helaian kaca baru
Yang kering akan retorika
Yang ada hanya sematan kemuliaan untuk saling mengasihi
Semburat bayang-bayang insani
Mulai memebuhi kaca
Kelopak jiwa perlahan merekah
Genangan pikiran pun terefleksi pada diri
Menjaga kaca agar tak terpecah
Menjaga masing-masing diri
Menjadi mahkota jiwa satu sama lain
Agar kaca tak lekang oleh waktu
Agar pancaran kasih tetap berpendar
Agar rasa ini tetap ada
Jelajahi waktu sinari diri
Seperti adanya dirimu didiriku
Berarti dan tiada terganti
Ciputat 2004
Friday, November 24, 2006
Hasrat Memimpin
“Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta untuk menjadi pemimpin, sebab jika engkau dijadikan pemimpin karena permintaanmu, maka engkau akan terbeban. Tapi jika engkau menjadi pemimpin bukan karena permintaanmu, maka engkau akan dibantu untuk mengatasinya.” (HR. Bukhari Muslim)
demikian suatu kali Rasulullah menasihati seorang sahabat bernama Abdurrahman bin Samurah, ketika ia meminta untuk diangkat menjadi seorang pemimpin. Dengan hadits tersebut tentu Rasulullah sama sekali tak bermaksud melarang orang – orang mukmin untuk terjun ke kancah politik, terutama bila niat tersebut didasari oleh tujuan dakwah dan niat amar makruf nahi munkar. Namun niat yang baik saja tentu tak cukup, karena seorang pemimpin hendaknya memiliki kompetensi mumpuni yang terkait dengan amanah yang diembannya.
Untuk menjadi pemimpin yang baik, idealnya seseorang tak mengandalkan kharisma, popularitas atau bahkan faktor kedekatan dengan penguasa (nepotisme), tapi yang lebih penting adalah kemampuan dan integritas moral. Sebagaimana sabda Rasulullah ketika sahabat Abu Dzar meminta sebuah jabatan kepemmpinan,”Wahai Abu Dzar, engkau adalah seorang yang lemah, dan jabatan itu adalah amanah yang pada hari akhir hanya akan menjadi penyesalan dan kehinaan. Kecuali orang yang mampu menunaikan hak kewajibannya dan memenuhi tanggung jawabnya." (HR. Muslim). Hadits tersebut menyiratkan implikasi bahwa kepemimpinan tanpa kemampuan yang memadai akan berbuah ketidakamanahan, yang ujung akhirnya adalah kehinaan yang kekal.
Rasulullah mengajarkan kepada para sahabatnya untuk tidak menonjolkan diri agar seseorang terpilih menjadi pemimpin. Terlebih pada zaman itu begitu banyak pribadi – pribadi pilihan dengan jiwa kepemimpinan yang kuat dengan karakternya masing – masing. Dan karena para sahabat itu adalah rijaludda’wah yang dikader langsung oleh Rasulullah, maka beliaulah yang paling memahami benar potensi dari setiap sahabatnya. Sebagai utusan Allah SWT, Rasulullah tak pernah lepas dari arahan wahyuNya dalam setiap pengambilan keputusan penting termasuk dalam hal yang terkait dengan pergantian kepemimpinan. Selain tentu juga bermusyawarah dengan para sahabat.
Namun sekali lagi, bukan berarti Islam mengharamkan seorang mukmin mengajukan diri menjadi pemimpin. Sebagaimana digambarkan dalam Al Qur’an mengenai kondisi krisis ekonomi yang melanda bangsa Mesir, saat itu Nabi Yusuf AS mengajukan diri untuk menerima amanah kepemimpinan : “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (integritas), lagi berpengetahuan (kompetensi).” (QS. Yusuf : 55). Tampak jelas bahwa bolehnya seseorang mengajukan diri menjadi pemimpin setidaknya harus memenuhi kriteria integritas moral yang tinggi, kompetensi dan kapabilitas yang mumpuni serta track record yang bersih dan telah teruji. Sebagaimana dikisahkan dalam Al Quran, Nabi Yusuf mengajukan diri menjadi pemimpin setelah terbukti tidak bersalah dan dibebaskan dari penjara negara. Permasalahan krisis ekonomi yang menimpa bangsa Mesir membutuhkan pemimpin baru yang solutif dan mereka menemukan jawabnya pada sosok pribadi menawan dan potensi kepemimpinan seorang Yusuf.
Memegang tampuk kepemimpinan menjadi amal yang sangat terpuji manakala dilaksanakan dalam koridor ketaatan pada Allah dan RasulNya. Buah dari sistem kaderisasi Islami yang telah Rasulullah rintis adalah pemimpin – pemimpin dengan tipikal Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin thalib, Umar bin Abdul Aziz. Sebagai pemimpin mereka telah membuktikan bahwa kepemimpinan yang tidak didasarkan syahwat berkuasa berlebihan, tetapi kompetensi dan integritas akan menghasilkan kehidupan rakyat yang makmur sejahtera berdasarkan ridho Allah.
Dan sejarah juga membuktikan banyak pemimpin bangsa di dunia yang menjadi pemimpin hanya bermodalkan ambisi dan dorongan syahwat berkuasa semata tanpa menaati rambu-rambu Allah dan RasulNya, ternyata membawa rakyatnya kepada kehancuran. Dan kekuasaan mereka berakhir dengan cara yang paling nista dan tentu juga kehinaan dan penyesalan yang sangat di hari kiamat.
“Sesungguhnya kalian meminta menjadi pemimpin. Nanti kalian akan mendapatkan penyesalan pada hari Kiamat…” (HR. Bukhari)
imamakbari@gintung
demikian suatu kali Rasulullah menasihati seorang sahabat bernama Abdurrahman bin Samurah, ketika ia meminta untuk diangkat menjadi seorang pemimpin. Dengan hadits tersebut tentu Rasulullah sama sekali tak bermaksud melarang orang – orang mukmin untuk terjun ke kancah politik, terutama bila niat tersebut didasari oleh tujuan dakwah dan niat amar makruf nahi munkar. Namun niat yang baik saja tentu tak cukup, karena seorang pemimpin hendaknya memiliki kompetensi mumpuni yang terkait dengan amanah yang diembannya.
Untuk menjadi pemimpin yang baik, idealnya seseorang tak mengandalkan kharisma, popularitas atau bahkan faktor kedekatan dengan penguasa (nepotisme), tapi yang lebih penting adalah kemampuan dan integritas moral. Sebagaimana sabda Rasulullah ketika sahabat Abu Dzar meminta sebuah jabatan kepemmpinan,”Wahai Abu Dzar, engkau adalah seorang yang lemah, dan jabatan itu adalah amanah yang pada hari akhir hanya akan menjadi penyesalan dan kehinaan. Kecuali orang yang mampu menunaikan hak kewajibannya dan memenuhi tanggung jawabnya." (HR. Muslim). Hadits tersebut menyiratkan implikasi bahwa kepemimpinan tanpa kemampuan yang memadai akan berbuah ketidakamanahan, yang ujung akhirnya adalah kehinaan yang kekal.
Rasulullah mengajarkan kepada para sahabatnya untuk tidak menonjolkan diri agar seseorang terpilih menjadi pemimpin. Terlebih pada zaman itu begitu banyak pribadi – pribadi pilihan dengan jiwa kepemimpinan yang kuat dengan karakternya masing – masing. Dan karena para sahabat itu adalah rijaludda’wah yang dikader langsung oleh Rasulullah, maka beliaulah yang paling memahami benar potensi dari setiap sahabatnya. Sebagai utusan Allah SWT, Rasulullah tak pernah lepas dari arahan wahyuNya dalam setiap pengambilan keputusan penting termasuk dalam hal yang terkait dengan pergantian kepemimpinan. Selain tentu juga bermusyawarah dengan para sahabat.
Namun sekali lagi, bukan berarti Islam mengharamkan seorang mukmin mengajukan diri menjadi pemimpin. Sebagaimana digambarkan dalam Al Qur’an mengenai kondisi krisis ekonomi yang melanda bangsa Mesir, saat itu Nabi Yusuf AS mengajukan diri untuk menerima amanah kepemimpinan : “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (integritas), lagi berpengetahuan (kompetensi).” (QS. Yusuf : 55). Tampak jelas bahwa bolehnya seseorang mengajukan diri menjadi pemimpin setidaknya harus memenuhi kriteria integritas moral yang tinggi, kompetensi dan kapabilitas yang mumpuni serta track record yang bersih dan telah teruji. Sebagaimana dikisahkan dalam Al Quran, Nabi Yusuf mengajukan diri menjadi pemimpin setelah terbukti tidak bersalah dan dibebaskan dari penjara negara. Permasalahan krisis ekonomi yang menimpa bangsa Mesir membutuhkan pemimpin baru yang solutif dan mereka menemukan jawabnya pada sosok pribadi menawan dan potensi kepemimpinan seorang Yusuf.
Memegang tampuk kepemimpinan menjadi amal yang sangat terpuji manakala dilaksanakan dalam koridor ketaatan pada Allah dan RasulNya. Buah dari sistem kaderisasi Islami yang telah Rasulullah rintis adalah pemimpin – pemimpin dengan tipikal Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin thalib, Umar bin Abdul Aziz. Sebagai pemimpin mereka telah membuktikan bahwa kepemimpinan yang tidak didasarkan syahwat berkuasa berlebihan, tetapi kompetensi dan integritas akan menghasilkan kehidupan rakyat yang makmur sejahtera berdasarkan ridho Allah.
Dan sejarah juga membuktikan banyak pemimpin bangsa di dunia yang menjadi pemimpin hanya bermodalkan ambisi dan dorongan syahwat berkuasa semata tanpa menaati rambu-rambu Allah dan RasulNya, ternyata membawa rakyatnya kepada kehancuran. Dan kekuasaan mereka berakhir dengan cara yang paling nista dan tentu juga kehinaan dan penyesalan yang sangat di hari kiamat.
“Sesungguhnya kalian meminta menjadi pemimpin. Nanti kalian akan mendapatkan penyesalan pada hari Kiamat…” (HR. Bukhari)
imamakbari@gintung
Akhir Indah buat Rojali
Fahmi terpekur, ia tenggelam dalam duka mendalam di depan gundukan tanah merah nan basah yang bertabur bunga. Tetes air mataanya tampak mengalir tak tertahan di wajah tirusnya. Kacamata minus duanya juga berembun. Dengan sapu tangan Fahmi menyeka wajahnya, ia berusaha keras untuk tak terisak di depan pusara Rojali. Setelah mengucap doa penutup, perlahan Fahmi beringsut meninggalkan pusara sahabatnya itu menuju sebuah saung yang teduh di area pemakaman. Di saung sederhana itu Fahmi menuturkan kisah Rojali, sahabatnya yang kini terbaring tenang di tempat peristirahatan terakhirnya.
Jali, begitu Rojali biasa disapa adalah teman mainnya sejak kecil. Mereka bertetangga meski rumah mereka agak berjauhan. Jali adalah anak pertama dari lima bersaudara, 3 perempuan dan 1 laki – laki. Ayahnya, Oman adalah seorang buruh bangunan yang pekerjaannya sangat tidak menentu datang. Terkadang 2 bulan penuh bekerja, tapi tak jarang juga hanya menganggur hingga 4 bulan lamanya. Tonah ibunya juga hanya seorang buruh cuci yang bekerja pada Ko Tan, pedagang kain keturunan Cina di Pasar Keling.
Mereka tinggal di sebuah tempat yang mungkin kurang tepat bila disebut sebagai rumah karena kondisinya yang sangat memprihatinkan. Tempat tinggal mereka hanya memiliki 3 ruang sempit dan masih beralaskan tanah. Aroma tak sedap akan tercium dan hawa pengap akan terasa menusuk karena sirkulasi udara yang sangat minim serta sedikit sekali cahaya mentari yang masuk. Karena kondisi tempat tinggal mereka itu, Jali mengalah pada adik – adiknya untuk tidak tidur di dipan mereka yang sederhana, tetapi hanya di atas selembar tikar lusuh. Bahkan terkadang ia memilih tidur di mushola atau Pos Ronda di dekat rumah Pak RT.
Dalam kondisi yang amat prihatin itu, Jali masih bisa bersekolah hingga tamat SD. Hingga setahun kemudian Oman ayahnya terserang penyakit TBC yang sangat akut. Sejak itu ayahnya tak dapat lagi mencari nafkah untuk keluarganya. Sebagai sulung dan anak laki – laki tertua, mau tak mau Jali harus menjadi tulang punggung keluarga. Karena penghasilan ibunya sangat tak mencukupi untuk menghidupi mereka, apalagi untuk pengobatan ayahnya. Sejak itulah Jali memutuskan untuk berhenti sekolah dan mengambil alih tanggung jawab ayahnya sebagai tulang punggung keluarga.
Karena tak memiliki ketrampilan memadai, Jali memulai pengalaman pertamanya mencari nafkah dengan menjadi pengamen jalanan. Sejak saat itu pula Jali mengenal kerasnya hidup di jalanan dan mulai paham jalan pintas mencari uang di dunia hitam. Berawal dari mengkonsumsi sendiri karena ditawari gratis oleh teman pengamennya, Jali kemudian meningkat menjadi pengedar cimeng. Selain karena iming – iming penghasilan juga karena ia sudah terlanjur menjadi pengguna tetapnya. Kehidupan Jali kemudian menjadi semakin liar dan sarat dengan kekerasan. Jali menjadi sosok yang ditakuti di kampungnya karena kejaggerannya itu. Tubuh tinggi besarnya menjadi semakin menakutkan manakala ia pulang ke kampungnya dalam keadaan mabuk. Hal tersebut makin menjadi hingga sebuah peristiwa besar terjadi dan menjadi pintu pembuka hidayah hidup baginya.
Tepat di akhir Ramadhan setahun yang lalu, ibu yang sangat disayanginya berpulang karena sakit ginjal akut yang sudah lama diderita. Kepergian sang ibunda menyusul ayahnya yang meninggal 3 tahun lalu itu rupanya sangat memukul batin Jali. Bahkan ia sempat mengurung diri dalam rumah selama beberapa hari. Adalah Fahmi sahabatnya sejak kecil yang selalu dengan sabar memberikan pencerahan sedikit demi sedikit hingga mata batinnya terbuka lebar menerima hidayah Allah. Tepat 2 pekan setelah Idul Fitri Jali menyampaikan pada Fahmi bahwa ia ingin belajar mengaji.
Sejak saat itu Jali seperti terlahir kembali, ia bukan lagi Jali beberapa waktu yang lalu dengan kehidupannya yang kelam. Jali sekarang adalah Jali dengan kehidupannya yang benderang. Ustadz Sobari menjadi saksi, bahwa setiap dinihari ia datang ke mushola At Taubah untuk mengimami sholat subuh ia mendapati Jali selalu sedang khusuk melantunkan ayat suci Al Qur’an. Kini penduduk kampungnya telah berubah sikap pada Jali dari takut menjadi sangat menghormati. Dan Jali bukan lagi preman jalanan, dia kini bekerja sebagai petugas penyapu jaan raya.
Tak ada yang pernah menyangka bahwa Jumat itu menjadi hari terakhir bagi Jali. Pagi itu seperti biasa Jali memulai tugasnya menyapu jalan raya. Akhir kehidupan Jali ternya ta harus berakhir dengan tragis, ketika sebuah truk fuso oleng dan nyelonong menubruk Jali yang sedang memasukkan sampah ke dalam gerobak di pinggir jalan. Tubuh perkasanya terseret 15 meter dan terhenti ketika truk itu menabrak tiang listrik. Dengan tubuh yang bermandikan darah dan deru nafasnya yang tinggal satu – satu, Jali mengucapkan kalimat thoyyibah Laa ilaa ha illallah. Kalimat yang beberapa waktu terakhir senantiasa membasahi lidah dan menggetarkan bibirnya. Sukma Jali pergi menghadap Robb yang dirindukannya. Jali melepas kehidupannya dengan seulas senyuman yang terukir di bibirnya juga tubuh mewangi kesturi, aroma yang juga tercium Fahmi saat ia turut memandikan jasad sahabatnya itu untuk terakhir kalinya. Sebuah akhir yang indah bagi Rojali. (imamakbari@gintung)
Jali, begitu Rojali biasa disapa adalah teman mainnya sejak kecil. Mereka bertetangga meski rumah mereka agak berjauhan. Jali adalah anak pertama dari lima bersaudara, 3 perempuan dan 1 laki – laki. Ayahnya, Oman adalah seorang buruh bangunan yang pekerjaannya sangat tidak menentu datang. Terkadang 2 bulan penuh bekerja, tapi tak jarang juga hanya menganggur hingga 4 bulan lamanya. Tonah ibunya juga hanya seorang buruh cuci yang bekerja pada Ko Tan, pedagang kain keturunan Cina di Pasar Keling.
Mereka tinggal di sebuah tempat yang mungkin kurang tepat bila disebut sebagai rumah karena kondisinya yang sangat memprihatinkan. Tempat tinggal mereka hanya memiliki 3 ruang sempit dan masih beralaskan tanah. Aroma tak sedap akan tercium dan hawa pengap akan terasa menusuk karena sirkulasi udara yang sangat minim serta sedikit sekali cahaya mentari yang masuk. Karena kondisi tempat tinggal mereka itu, Jali mengalah pada adik – adiknya untuk tidak tidur di dipan mereka yang sederhana, tetapi hanya di atas selembar tikar lusuh. Bahkan terkadang ia memilih tidur di mushola atau Pos Ronda di dekat rumah Pak RT.
Dalam kondisi yang amat prihatin itu, Jali masih bisa bersekolah hingga tamat SD. Hingga setahun kemudian Oman ayahnya terserang penyakit TBC yang sangat akut. Sejak itu ayahnya tak dapat lagi mencari nafkah untuk keluarganya. Sebagai sulung dan anak laki – laki tertua, mau tak mau Jali harus menjadi tulang punggung keluarga. Karena penghasilan ibunya sangat tak mencukupi untuk menghidupi mereka, apalagi untuk pengobatan ayahnya. Sejak itulah Jali memutuskan untuk berhenti sekolah dan mengambil alih tanggung jawab ayahnya sebagai tulang punggung keluarga.
Karena tak memiliki ketrampilan memadai, Jali memulai pengalaman pertamanya mencari nafkah dengan menjadi pengamen jalanan. Sejak saat itu pula Jali mengenal kerasnya hidup di jalanan dan mulai paham jalan pintas mencari uang di dunia hitam. Berawal dari mengkonsumsi sendiri karena ditawari gratis oleh teman pengamennya, Jali kemudian meningkat menjadi pengedar cimeng. Selain karena iming – iming penghasilan juga karena ia sudah terlanjur menjadi pengguna tetapnya. Kehidupan Jali kemudian menjadi semakin liar dan sarat dengan kekerasan. Jali menjadi sosok yang ditakuti di kampungnya karena kejaggerannya itu. Tubuh tinggi besarnya menjadi semakin menakutkan manakala ia pulang ke kampungnya dalam keadaan mabuk. Hal tersebut makin menjadi hingga sebuah peristiwa besar terjadi dan menjadi pintu pembuka hidayah hidup baginya.
Tepat di akhir Ramadhan setahun yang lalu, ibu yang sangat disayanginya berpulang karena sakit ginjal akut yang sudah lama diderita. Kepergian sang ibunda menyusul ayahnya yang meninggal 3 tahun lalu itu rupanya sangat memukul batin Jali. Bahkan ia sempat mengurung diri dalam rumah selama beberapa hari. Adalah Fahmi sahabatnya sejak kecil yang selalu dengan sabar memberikan pencerahan sedikit demi sedikit hingga mata batinnya terbuka lebar menerima hidayah Allah. Tepat 2 pekan setelah Idul Fitri Jali menyampaikan pada Fahmi bahwa ia ingin belajar mengaji.
Sejak saat itu Jali seperti terlahir kembali, ia bukan lagi Jali beberapa waktu yang lalu dengan kehidupannya yang kelam. Jali sekarang adalah Jali dengan kehidupannya yang benderang. Ustadz Sobari menjadi saksi, bahwa setiap dinihari ia datang ke mushola At Taubah untuk mengimami sholat subuh ia mendapati Jali selalu sedang khusuk melantunkan ayat suci Al Qur’an. Kini penduduk kampungnya telah berubah sikap pada Jali dari takut menjadi sangat menghormati. Dan Jali bukan lagi preman jalanan, dia kini bekerja sebagai petugas penyapu jaan raya.
Tak ada yang pernah menyangka bahwa Jumat itu menjadi hari terakhir bagi Jali. Pagi itu seperti biasa Jali memulai tugasnya menyapu jalan raya. Akhir kehidupan Jali ternya ta harus berakhir dengan tragis, ketika sebuah truk fuso oleng dan nyelonong menubruk Jali yang sedang memasukkan sampah ke dalam gerobak di pinggir jalan. Tubuh perkasanya terseret 15 meter dan terhenti ketika truk itu menabrak tiang listrik. Dengan tubuh yang bermandikan darah dan deru nafasnya yang tinggal satu – satu, Jali mengucapkan kalimat thoyyibah Laa ilaa ha illallah. Kalimat yang beberapa waktu terakhir senantiasa membasahi lidah dan menggetarkan bibirnya. Sukma Jali pergi menghadap Robb yang dirindukannya. Jali melepas kehidupannya dengan seulas senyuman yang terukir di bibirnya juga tubuh mewangi kesturi, aroma yang juga tercium Fahmi saat ia turut memandikan jasad sahabatnya itu untuk terakhir kalinya. Sebuah akhir yang indah bagi Rojali. (imamakbari@gintung)
Subscribe to:
Posts (Atom)
