Seorang sahabat yang sejak tamat SMA tinggal di Benua Amerika,
menuliskan kerinduan dan kegundahannya tentang tanah airnya.
Menggapai Angan, akankah?
Sungguh, rasanya sempit lagi hati ini
Betapa lemahnya jiwa ini
Tanpa pegangan
Tanpa Arah
Tanpa teman
Tanpa Engkau (Tanpa Engkau?)
Kudengar tangisan di seberang lautan
Seorang adinda telah tiada
Seorang ayah tak punya
yang hanya dihidupi pecahan kaca
Berkorban demi sebuah kuburan
negri heboh dengan kecaman
Puisi bertebaran
namun sang negri tetap merintih menangis
banyak mengeluh rakyatnya
namun tetap tak ada uluran tangan
tak ada usaha
tak ada taubat
Oh, betapa Engkau jauh Indonesiaku
Kuterbayang merah tanahmu
Kudengar panggilanmuIradahku semakin menggebu
tuk melangkahkan hati kembali ke pelukanmu
Harta tak berarti apapun
sampai ia kembali kepada haknya
Ilmu tak bermakna apapun
hingga badan terkoyak karenanya
dan seribu hati menggunakannya
Where, Lord, do I go from here?
Please answer me..ya Rabbi, ya Ar Rahman..
Crofton, June 9 2005
Tak ada jarak yang jauh antara sahabat, meski bertabir luas benua dan berhalang samudera raya, karena persahabatan ciptakan sayap bagi hati
Wednesday, January 10, 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)
