Fahmi terpekur, ia tenggelam dalam duka mendalam di depan gundukan tanah merah nan basah yang bertabur bunga. Tetes air mataanya tampak mengalir tak tertahan di wajah tirusnya. Kacamata minus duanya juga berembun. Dengan sapu tangan Fahmi menyeka wajahnya, ia berusaha keras untuk tak terisak di depan pusara Rojali. Setelah mengucap doa penutup, perlahan Fahmi beringsut meninggalkan pusara sahabatnya itu menuju sebuah saung yang teduh di area pemakaman. Di saung sederhana itu Fahmi menuturkan kisah Rojali, sahabatnya yang kini terbaring tenang di tempat peristirahatan terakhirnya.
Jali, begitu Rojali biasa disapa adalah teman mainnya sejak kecil. Mereka bertetangga meski rumah mereka agak berjauhan. Jali adalah anak pertama dari lima bersaudara, 3 perempuan dan 1 laki – laki. Ayahnya, Oman adalah seorang buruh bangunan yang pekerjaannya sangat tidak menentu datang. Terkadang 2 bulan penuh bekerja, tapi tak jarang juga hanya menganggur hingga 4 bulan lamanya. Tonah ibunya juga hanya seorang buruh cuci yang bekerja pada Ko Tan, pedagang kain keturunan Cina di Pasar Keling.
Mereka tinggal di sebuah tempat yang mungkin kurang tepat bila disebut sebagai rumah karena kondisinya yang sangat memprihatinkan. Tempat tinggal mereka hanya memiliki 3 ruang sempit dan masih beralaskan tanah. Aroma tak sedap akan tercium dan hawa pengap akan terasa menusuk karena sirkulasi udara yang sangat minim serta sedikit sekali cahaya mentari yang masuk. Karena kondisi tempat tinggal mereka itu, Jali mengalah pada adik – adiknya untuk tidak tidur di dipan mereka yang sederhana, tetapi hanya di atas selembar tikar lusuh. Bahkan terkadang ia memilih tidur di mushola atau Pos Ronda di dekat rumah Pak RT.
Dalam kondisi yang amat prihatin itu, Jali masih bisa bersekolah hingga tamat SD. Hingga setahun kemudian Oman ayahnya terserang penyakit TBC yang sangat akut. Sejak itu ayahnya tak dapat lagi mencari nafkah untuk keluarganya. Sebagai sulung dan anak laki – laki tertua, mau tak mau Jali harus menjadi tulang punggung keluarga. Karena penghasilan ibunya sangat tak mencukupi untuk menghidupi mereka, apalagi untuk pengobatan ayahnya. Sejak itulah Jali memutuskan untuk berhenti sekolah dan mengambil alih tanggung jawab ayahnya sebagai tulang punggung keluarga.
Karena tak memiliki ketrampilan memadai, Jali memulai pengalaman pertamanya mencari nafkah dengan menjadi pengamen jalanan. Sejak saat itu pula Jali mengenal kerasnya hidup di jalanan dan mulai paham jalan pintas mencari uang di dunia hitam. Berawal dari mengkonsumsi sendiri karena ditawari gratis oleh teman pengamennya, Jali kemudian meningkat menjadi pengedar cimeng. Selain karena iming – iming penghasilan juga karena ia sudah terlanjur menjadi pengguna tetapnya. Kehidupan Jali kemudian menjadi semakin liar dan sarat dengan kekerasan. Jali menjadi sosok yang ditakuti di kampungnya karena kejaggerannya itu. Tubuh tinggi besarnya menjadi semakin menakutkan manakala ia pulang ke kampungnya dalam keadaan mabuk. Hal tersebut makin menjadi hingga sebuah peristiwa besar terjadi dan menjadi pintu pembuka hidayah hidup baginya.
Tepat di akhir Ramadhan setahun yang lalu, ibu yang sangat disayanginya berpulang karena sakit ginjal akut yang sudah lama diderita. Kepergian sang ibunda menyusul ayahnya yang meninggal 3 tahun lalu itu rupanya sangat memukul batin Jali. Bahkan ia sempat mengurung diri dalam rumah selama beberapa hari. Adalah Fahmi sahabatnya sejak kecil yang selalu dengan sabar memberikan pencerahan sedikit demi sedikit hingga mata batinnya terbuka lebar menerima hidayah Allah. Tepat 2 pekan setelah Idul Fitri Jali menyampaikan pada Fahmi bahwa ia ingin belajar mengaji.
Sejak saat itu Jali seperti terlahir kembali, ia bukan lagi Jali beberapa waktu yang lalu dengan kehidupannya yang kelam. Jali sekarang adalah Jali dengan kehidupannya yang benderang. Ustadz Sobari menjadi saksi, bahwa setiap dinihari ia datang ke mushola At Taubah untuk mengimami sholat subuh ia mendapati Jali selalu sedang khusuk melantunkan ayat suci Al Qur’an. Kini penduduk kampungnya telah berubah sikap pada Jali dari takut menjadi sangat menghormati. Dan Jali bukan lagi preman jalanan, dia kini bekerja sebagai petugas penyapu jaan raya.
Tak ada yang pernah menyangka bahwa Jumat itu menjadi hari terakhir bagi Jali. Pagi itu seperti biasa Jali memulai tugasnya menyapu jalan raya. Akhir kehidupan Jali ternya ta harus berakhir dengan tragis, ketika sebuah truk fuso oleng dan nyelonong menubruk Jali yang sedang memasukkan sampah ke dalam gerobak di pinggir jalan. Tubuh perkasanya terseret 15 meter dan terhenti ketika truk itu menabrak tiang listrik. Dengan tubuh yang bermandikan darah dan deru nafasnya yang tinggal satu – satu, Jali mengucapkan kalimat thoyyibah Laa ilaa ha illallah. Kalimat yang beberapa waktu terakhir senantiasa membasahi lidah dan menggetarkan bibirnya. Sukma Jali pergi menghadap Robb yang dirindukannya. Jali melepas kehidupannya dengan seulas senyuman yang terukir di bibirnya juga tubuh mewangi kesturi, aroma yang juga tercium Fahmi saat ia turut memandikan jasad sahabatnya itu untuk terakhir kalinya. Sebuah akhir yang indah bagi Rojali. (imamakbari@gintung)
Tak ada jarak yang jauh antara sahabat, meski bertabir luas benua dan berhalang samudera raya, karena persahabatan ciptakan sayap bagi hati
Friday, November 24, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment